YOUR FAVORITE COLD CEREAL IN THE MORNING

A wench with small nails. A movie buff, which might be your worst nightmare, or your best friend. My life's a maze :)

My first novel-omnibook "Blue Romance" is out now. Published by PlotPoint Publishing (follow them @_PlotPoint) .



Follow me on twitter: @dearsheva

Aku memutar nomor teleponmu dalam kegelapan. Derik suara angka-angka yang harus diputar menggema dalam ruang tamu.

Ayah sangat menyayangi telepon ini, namun aku sangat membencinya. Aku tidak suka dengan derik dari gerakan memutar yang harus kita lakukan saat menelepon.

Suara itu gaduh. Tapi, meminta ayah membeli telepon wireless sama saja dengan membujuk bumi agar berputar keluar dari porosnya.

Aku berharap ayah dan ibu tidak terbangun.

Suara panggilan yang terhubung ke nomormu sejenak membuatku terperanjat.

“Halo?”

Ada suaramu di seberang sana. Serak dan menyenangkan.

Aku membayangkan dirimu mengucak matamu yang perih karena terbangun tiba-tiba karena suara sembreng dari teleponmu.

Aku membayangkan baju yang kau kenakan. Kaus kumal berwarna putih dengan gambar sepeda ontel dan celana kasual warna hitam yang warnanya sudah memudar.

Aku membayangkan punggungmu dari belakang, yang harus sedikit membungkuk saat meraih gagang telepon dan menjawab panggilan ini. Punggung milik seseorang bertubuh jangkung dan proporsional.

Aku membayangkan sudut-sudut wajahmu saat menjawab telepon ini. Rahang yang tinggi dan ditumbuhi sedikit rambut karena belum bercukur pagi. Jelas saja, ini pukul dua pagi.

“Ini sudah kelimapuluh kalinya kamu menelepon. Siapa kamu?”

Aku terperanjat. Baru kali ini kamu bertanya. Kamu bahkan menghitung jumlah aku menelepon.

Aku menahan napas.

Sudah gilakah aku karena melakukan ini?

Aku selalu meneleponmu hanya untuk merasakan bagaimana rasanya disapa olehmu.

Kamu menyapa semua orang. Aku berharap aku adalah salah satu dari antara orang-orang itu.

Meneleponmu hanyalah satu-satunya pilihan yang ada untuk mendengarkan sepotong “halo” darimu.

Aku tersenyum. Aku menyimpan kata-katamu yang tidak hanya sepotong “halo” itu dalam hatiku.

Jika suatu hari aku lebih berani, aku akan berbicara kepadamu. Percayalah, aku tidak jahat.

Aku hanya ingin disapa olehmu.

Aku menutup teleponku dengan pelan, tersenyum senang dan berjinjit kembali ke kamar.

Aku berharap bisa bertemu kamu lagi dalam mimpi, dan meneleponmu kembali besok untuk bilang bahwa aku memimpikanmu, lewat telepon tanpa suara dariku.

Sampai besok, ya.

Ada sebuah cerita tentang harapan yang tidak sejalan dengan kenyataan.

Bukan. 

Ada banyak cerita tentang harapan yang tidak sejalan dengan kenyataan. Karena itulah, aku mudah untuk menulis tentang kamu. 

Menulis tentang kamu sungguh mudah. Membongkar luka lama, mengingat-ingat pesan singkat yang sudah kamu kirimkan bertahun-tahun lalu, membuat luka baru dengan mengingat-ingat sudut wajahmu. 

Menulis tentang kamu sungguh mudah. Cerita mengenai perbedaan antara harapan dan kenyataan lebih mudah diceritakan. Kamu contohnya.

Menulis tentang kamu sungguh mudah. Karena manusia punya ekspektasi. Ekspektasi yang tidak terealisasi akan menciptakan luka, yang adalah cerita basi. Kamu contohnya. 

Menulis tentang kamu sungguh mudah, karena kamu adalah salah satu dari sekian banyak cerita basi yang anehnya masih renyah untuk dikecap. Ya, tetap kamu contohnya. 

Aku berharap kamu tidak membaca tulisan ini. Karena aku tidak ingin kamu tahu bahwa aku menulis tentang kamu. 

Aneh sekali ya, mengapa sangat mudah untuk menulis tentang kamu, namun sangat sulit untuk bisa bersikap normal di hadapanmu? 

Oh, aku punya alasan.

Aku selalu menulis hal yang aku anggap penting. 

Rupanya, kamu masih penting untuk aku.

Berkali-kali aku menyangkal. Ya, menyangkal bahwa keberadaan kamu dan penjelasan dari kamu itu penting. 

Aku semakin diingatkan dan disadarkan seorang teman bahwa rupanya aku masih menganggap kamu penting. Aku benci mengakuinya. Tapi mungkin memang itu jawabannya. 

Karena aku menganggap kamu penting.

Itulah mengapa aku mudah untuk menulis tentang kamu. 

Saya sedang mengerjakan proses penulisan buku kedua saya, dan saya sungguh senang. 

Sekarang sudah memasuki halaman keXX dan saya cukup senang dengan hasilnya. Belakangan ini, saya memang tidak sanggup untuk menulis dalam jumlah banyak karena bentrok dengan tugas, jadwal ujian, event kampus dll. Harus diakui, kadang-kadang saya agak capek.

Saya tidak suka ketika saya merasa capek dengan proses penulisan saya sendiri, namun saya lebih mencintai proses penulisan dibandingan capek karena proses penulisan tersebut. Determination brings perfection, that’s what I believe. 


Mohon dukungannya ya, teman-teman. (Kalau ada yang mau pijat bahu saya gratis, juga boleh.)

Alright.

So, my friend, Ndari just attacked me with this rapid fire question. Yes, rapid and firey. Imagine James Bond, or something more dramatic like the riot scene from Gone With The Wind, ha. :)) 
 
She tagged me from her blog (an awesome blog for all book geeks. Check it out here
 
From her blog, I should answer 10 compulsory questions and 5 additional questions. I actually have something to do (read: reading 26 pages of copyright law for my Indonesian Legal System subject. Is it important? Yes. But I’m just sick of reading something serious tonight, soooo oh well…) , but I finally made this post. Yeay. So, here it goes —-the rapid fire questions about books and books :) Will answer it in Bahasa. 
 
 
1. nambah atau ngurangin timbunan? Menambah timbunan, tapiiii maunya menambah timbunan dan membaca semua bukunya. Saya ngga mau jadi book hoarder, dan saya berusaha menghindarinya hehe. Juga, buku di rak-rak buku di rumahku kebanyakan adalah buku referensi ayah untuk pekerjaannya. Bolehlah ditambah beberapa literatur dan buku menarik kepunyaanku ;)
2. pinjam atau beli buku?
 Jika bukunya cuma menarik 60-70% rasa ingin tahu, aku lebih baik meminjam. Dan sejujurnya, kalau lagi bokek, saya mending minjam. Tapi kalau sudah sampai 80% (baca: liat Goodreads dan beberapa review orang lain) atau sampai 100% (baca: liat Goodreads, tanya orang lain udah pernah baca atau belum, cari info dijual dimana aja, sampe ke toko buku dan tanya customer service segala), pastinya membeli -walau bokek, sampe dibelain deh pokoknya:) 

3. baca buku atau nonton film? 
HAHAHA. SETUJU SAMA NDARI. INI MAH KAYAK MILIH JON HAMM DAN TOM HIDDLESTON. ATAU TOM HIDDLESTON DENGAN MICHAEL FASSBENDER. SUSAH BROH. *yes capital semua, biar tau betapa susahnya memilih. Gak fair pertanyaannya! :))))*

 

4. beli buku online atau offline? 
Tergantung mood. Kalau lagi malas, beli online. Tapi suka ke toko buku juga sih ya… sekalian melihat judul-judul buku baru, memegang bukunya dan ngerasain atmosfer toko buku yang selalu saja menarik :”) 

 

5. (penting) buku bajakan atau ori? 
Original. Buku harus original. It’s authentic, crisp and fresh. 

 

6. gratisan atau diskonan? 
Diskonan. Gratisan juga enak, tapi biasanya ada tagihan tersembunyi. Belum lama ini dapat gratisan, tapi ditagih naskahnya :)) hahaha
 

7. beli pre-order atau menanti dgn sabar?
Menanti dengan sabar. Suka ketinggalan pre-order soalnya.
 
8. buku asing (terjemahan) atau lokal? 
Buku lokal.

9. pembatas buku penting atau biasa aja? 
Dulu sih sok-sokan pakai pembatas buku, yang ada malah hilang atau ngga terpakai. Daripada pakai pembatas buku mahal-mahal, mending pakai barang lain. Contohnya: kartu remi, bon bekas, tisu bersih (hahaha, I did this), kertas coretan dll. 

10. bookmark atau bungkus chiki?
Ngga pernah pakai bungkus chiki, pernahnya permen, ngga sengaja soalnya. Eh tapi malah keterusan sampai bukunya habis. Aduh ngga lagi deh, kalau dipikir-pikir saya males banget, sampe batasin pakai bungkus permen segala. 

Additional questions dari Ndari:

 

Buku yang bikin nangis atau film yang bikin nangis?


Buku yang bikin nangis. Melihat sesuatu dengan mata dan menangis itu sudah sering. Tapi membaca dan membayangkan apa yang dibaca sampai menangis itu berarti luar biasa. Berarti buku itu benar-benar powerful sampai memeras air mata Si penulis pasti memikirkan ceritanya dengan sungguh-sungguh dan mencurahkan semuanya saat menulis, jadiiii saya lebih suka buku yang bikin nangis. 

 

Pesan buku impor di toko buku online luar negeri (bookdepository, amazon) atau di toko buku yang memang menjual buku impor (Periplus, Kinokuniya)

Saya ngelakuin dua-duanya hahaha. Biasanya sih cari dulu di toko buku online, karena lebih murah, tapi kalau harganya ngga jauh dari Periplus dan Kinokuniya, saya beli di tempatnya langsung, jadi bisa langsung dibaca. Saya termasuk orang yang sabar nunggu pesanan buku online yang datang, tapiiii kalau bisa langsung disantap kenapa harus nunggu :p 

 

Manga atau novel grafis dan komik (misalnya komik Eropa/Amerika)?


INI KAYAK DISURUH MILIH ANTARA MATTHEW GRAY GUBLER DAN TAKUYA KIMURA. NGGA BISA HOIIIII. SAYA PILIH DUA-DUANYA. TITIK. :p

 

Baca sambil dengerin lagu atau baca di kendaraan?


Saya melakukan keduanya. Tapi kalau bukunya sungguh menarik, saya baca di kendaraan tanpa lagu supaya lebih fokus. 

 

Goodreads atau no Goodreads?


Everything has two sides of medallion, also with Goodreads, in my opinion. I choose Goodreads though. :) 

Belum tau nih mau tag ke siapa. Menyusul yaaa :) 

We met at the wrong time. That’s what I keep telling myself anyway. Maybe one day years from now, we’ll meet in a coffee shop in a far away city somewhere and we could give it another shot.
Joel Barish  (via firecomingout)

Bahagia itu sederhana 😊 – View on Path.

Iseng

Inget ini jadi berkaca-kaca. #tokillamockingbird #gregorypeck