Aku memutar nomor teleponmu dalam kegelapan. Derik suara angka-angka yang harus diputar menggema dalam ruang tamu.
Ayah sangat menyayangi telepon ini, namun aku sangat membencinya. Aku tidak suka dengan derik dari gerakan memutar yang harus kita lakukan saat menelepon.
Suara itu gaduh. Tapi, meminta ayah membeli telepon wireless sama saja dengan membujuk bumi agar berputar keluar dari porosnya.
Aku berharap ayah dan ibu tidak terbangun.
Suara panggilan yang terhubung ke nomormu sejenak membuatku terperanjat.
“Halo?”
Ada suaramu di seberang sana. Serak dan menyenangkan.
Aku membayangkan dirimu mengucak matamu yang perih karena terbangun tiba-tiba karena suara sembreng dari teleponmu.
Aku membayangkan baju yang kau kenakan. Kaus kumal berwarna putih dengan gambar sepeda ontel dan celana kasual warna hitam yang warnanya sudah memudar.
Aku membayangkan punggungmu dari belakang, yang harus sedikit membungkuk saat meraih gagang telepon dan menjawab panggilan ini. Punggung milik seseorang bertubuh jangkung dan proporsional.
Aku membayangkan sudut-sudut wajahmu saat menjawab telepon ini. Rahang yang tinggi dan ditumbuhi sedikit rambut karena belum bercukur pagi. Jelas saja, ini pukul dua pagi.
“Ini sudah kelimapuluh kalinya kamu menelepon. Siapa kamu?”
Aku terperanjat. Baru kali ini kamu bertanya. Kamu bahkan menghitung jumlah aku menelepon.
Aku menahan napas.
Sudah gilakah aku karena melakukan ini?
Aku selalu meneleponmu hanya untuk merasakan bagaimana rasanya disapa olehmu.
Kamu menyapa semua orang. Aku berharap aku adalah salah satu dari antara orang-orang itu.
Meneleponmu hanyalah satu-satunya pilihan yang ada untuk mendengarkan sepotong “halo” darimu.
Aku tersenyum. Aku menyimpan kata-katamu yang tidak hanya sepotong “halo” itu dalam hatiku.
Jika suatu hari aku lebih berani, aku akan berbicara kepadamu. Percayalah, aku tidak jahat.
Aku hanya ingin disapa olehmu.
Aku menutup teleponku dengan pelan, tersenyum senang dan berjinjit kembali ke kamar.
Aku berharap bisa bertemu kamu lagi dalam mimpi, dan meneleponmu kembali besok untuk bilang bahwa aku memimpikanmu, lewat telepon tanpa suara dariku.
Sampai besok, ya.
Ada sebuah cerita tentang harapan yang tidak sejalan dengan kenyataan.
Bukan.
Ada banyak cerita tentang harapan yang tidak sejalan dengan kenyataan. Karena itulah, aku mudah untuk menulis tentang kamu.
Menulis tentang kamu sungguh mudah. Membongkar luka lama, mengingat-ingat pesan singkat yang sudah kamu kirimkan bertahun-tahun lalu, membuat luka baru dengan mengingat-ingat sudut wajahmu.
Menulis tentang kamu sungguh mudah. Cerita mengenai perbedaan antara harapan dan kenyataan lebih mudah diceritakan. Kamu contohnya.
Menulis tentang kamu sungguh mudah. Karena manusia punya ekspektasi. Ekspektasi yang tidak terealisasi akan menciptakan luka, yang adalah cerita basi. Kamu contohnya.
Menulis tentang kamu sungguh mudah, karena kamu adalah salah satu dari sekian banyak cerita basi yang anehnya masih renyah untuk dikecap. Ya, tetap kamu contohnya.
Aku berharap kamu tidak membaca tulisan ini. Karena aku tidak ingin kamu tahu bahwa aku menulis tentang kamu.
Aneh sekali ya, mengapa sangat mudah untuk menulis tentang kamu, namun sangat sulit untuk bisa bersikap normal di hadapanmu?
Oh, aku punya alasan.
Aku selalu menulis hal yang aku anggap penting.
Rupanya, kamu masih penting untuk aku.
Berkali-kali aku menyangkal. Ya, menyangkal bahwa keberadaan kamu dan penjelasan dari kamu itu penting.
Aku semakin diingatkan dan disadarkan seorang teman bahwa rupanya aku masih menganggap kamu penting. Aku benci mengakuinya. Tapi mungkin memang itu jawabannya.
Karena aku menganggap kamu penting.
Itulah mengapa aku mudah untuk menulis tentang kamu.
Saya sedang mengerjakan proses penulisan buku kedua saya, dan saya sungguh senang.
Sekarang sudah memasuki halaman keXX dan saya cukup senang dengan hasilnya. Belakangan ini, saya memang tidak sanggup untuk menulis dalam jumlah banyak karena bentrok dengan tugas, jadwal ujian, event kampus dll. Harus diakui, kadang-kadang saya agak capek.
Saya tidak suka ketika saya merasa capek dengan proses penulisan saya sendiri, namun saya lebih mencintai proses penulisan dibandingan capek karena proses penulisan tersebut. Determination brings perfection, that’s what I believe.
Mohon dukungannya ya, teman-teman. (Kalau ada yang mau pijat bahu saya gratis, juga boleh.)
Additional questions dari Ndari:
Buku yang bikin nangis atau film yang bikin nangis?
Buku yang bikin nangis. Melihat sesuatu dengan mata dan menangis itu sudah sering. Tapi membaca dan membayangkan apa yang dibaca sampai menangis itu berarti luar biasa. Berarti buku itu benar-benar powerful sampai memeras air mata Si penulis pasti memikirkan ceritanya dengan sungguh-sungguh dan mencurahkan semuanya saat menulis, jadiiii saya lebih suka buku yang bikin nangis.
Pesan buku impor di toko buku online luar negeri (bookdepository, amazon) atau di toko buku yang memang menjual buku impor (Periplus, Kinokuniya)
Saya ngelakuin dua-duanya hahaha. Biasanya sih cari dulu di toko buku online, karena lebih murah, tapi kalau harganya ngga jauh dari Periplus dan Kinokuniya, saya beli di tempatnya langsung, jadi bisa langsung dibaca. Saya termasuk orang yang sabar nunggu pesanan buku online yang datang, tapiiii kalau bisa langsung disantap kenapa harus nunggu :p
Manga atau novel grafis dan komik (misalnya komik Eropa/Amerika)?
INI KAYAK DISURUH MILIH ANTARA MATTHEW GRAY GUBLER DAN TAKUYA KIMURA. NGGA BISA HOIIIII. SAYA PILIH DUA-DUANYA. TITIK. :p
Baca sambil dengerin lagu atau baca di kendaraan?
Saya melakukan keduanya. Tapi kalau bukunya sungguh menarik, saya baca di kendaraan tanpa lagu supaya lebih fokus.
Goodreads atau no Goodreads?
Everything has two sides of medallion, also with Goodreads, in my opinion. I choose Goodreads though. :)
Belum tau nih mau tag ke siapa. Menyusul yaaa :)
Bahagia itu sederhana 😊 – View on Path.