YOUR FAVORITE COLD CEREAL IN THE MORNING

A wench with small nails. A movie buff, which might be your worst nightmare, or your best friend. My life's a maze :)

My first novel-omnibook "Blue Romance" is out now. Published by PlotPoint Publishing (follow them @_PlotPoint) .



Follow me on twitter: @dearsheva

The Finches (who always make me teary-eyed and can’t handle my smile). #gregorypeck #tokillamockingbird

I wish I still save all of your text messages, so I could scroll at them and see how we were and how we are now.
@dearsheva

Ada yang bilang bahwa cinta atau rasa sayang harus terbalaskan. Harus ada sambutan.

Pembelaan saya adalah: memangnya cinta itu pengantin? Harus disambut?

Saya mungkin sedikit sekali jatuh cinta. Tapi saya selalu mengingat saat-saat saya menaruh hati saya secara penuh untuk seseorang, walau dia hanya menganggap saya sebagai teman.

Saya senang ketika dia membicarakan hal-hal yang disukainya. Membuat sketsa misalnya, atau sekadar berjalan-jalan dan mengamati apa yang terjadi di sekitar.

Saya senang ketika dia menaruh perhatian pada apa yang saya sukai, pada apa yang saya baca. Pada saat dia menelepon dan bertanya apakah saya sudah sembuh dari flu.

Saya senang ketika dia bicara tentang cinta. Tentang cintanya yang belum disambut oleh perempuan yang disukainya. Karena, walau cintanya belum disambut, dia sungguh yakin bahwa dia sedang menunjukkan hal yang baik untuk perempuan itu.

Banyak yang bilang, apa yang saya lakukan hanya menyakiti diri sendiri, menenggelamkan diri dengan melihat kesenangan orang lain.

Jangan salah, teman. Saya adalah manusia yang cukup egois. Tapi, dalam hal ini, saya tidak lagi tahu dimana ego saya. Apa yang saya tahu adalah, saat dia senang, saya juga senang.

Melihat dirinya senang membuat saya senang. Itu adalah salah satu ciri cinta bukan? Tidak egois, tidak mementingkan diri.

Maka ketika dia meminta saran saya mengenai bagaimana harus berlaku di depan perempuan itu, saya mencoba memberi saran sebisa saya.

Banyak yang bilang, ini adalah kelemahan saya. Saya terbiasa melakukan hal ini, karena dia masih bersama saya, masih menjadi teman saya. Belum menjadi pasangan perempuan lain yang tentunya akan meminimkan waktu kami untuk bicara tentang banyak hal.

Banyak yang bilang, saya bisa terluka hebat karena membiarkan diri saya menyerahkan hati sepenuhnya. Entah mengapa, saya masih dalam kondisi yang siap untuk terluka.

Dulu, saya pernah menulis: pada akhirnya, luka adalah jalan bagi kita untuk tumbuh dewasa. Pendewasaan diri yang menyorot satu hal: cintailah sepenuh hati, karena luka bisa diobati.

Luka, seberapa besar dalamnya, pasti akan menutup kembali. Memang, ia meninggalkan bekas. Bekas itu yang akan mendewasakan kita. Luka bisa menjadi hal yang baik jika ia mengingatkan kita akan pelajaran baik di masa lalu. Tapi, bukan berarti luka menjadikan rasa pedih yang permanen.

Songwriter favorit saya, John Mayer, menulis bahwa cinta itu seperti rumput. Bisa menempel di jeans favoritmu, bahkan menempelkan noda. Namun, itu mengingatkan kita bahwa kita pernah jatuh di atas rumput itu. Di atas cinta, maksudnya.

Jadi, saya tidak menyesal telah banyak membuat hati saya jatuh berkali-kali pada orang yang tidak tepat, entah karena keadaan atau waktu. Karena, akan ada saatnya, saya menyerahkan hati saya sepenuhnya, dengan orang yang dengan sepenuhnya mau memberikan hatinya untuk saya.

No one could bring me down today! :) #harukimurakami #murakami #book

This scene makes me sit in silence. Literally.

I just feel like not going to the class, and I’m so happy because: it’s another reunion with this old red couch, this book is getting better the more I flip the pages, and the campus’ radio is playing a lot of The Beatles songs in a row. I feel better now. :))

I hope I dream a dream as Sophie, who meets The BFG at night. #roalddahl #thebfg #children #stories

I was talking with a friend, Sekar Wulandari, (@ndarow), about how saddening it is to see most of people turn to be bitter and full of hatred, have this sudden sickness or disgust when it comes to “he-is-my-ex” kind of game.

It once happened to me. Not with an ex actually. I was in a friendzone, frankly speaking. When I just figured out how things were exactly going, I feel so dumb. I started to questioning things like, “does love fade that easy? That quick?”.

I don’t know who was in love at first. I don’t even care with that. All I know: I was this egoistic wench who love someone and I feel that I deserve that love too. I deserve a certainty: dating or not make-friends at all.

But then, I started to think that I couldn’t do that. I might be the one who think that everything seems right, but maybe he doesn’t think like that.

I feel that those “shoes” were actually made for me because “I love the color, the shape” etc. But I forgot the most important thing: the shoes size.

I forced everything to make my feet suit on that shoes. But it’s not working. Then, I realized that some shoes were meant to be seen, not to be used.

Some men were meant to be friends with us, not to be our boyfriend.

I just hope that if I could turn back time, I want to still be friends with him. I want to erase all that stupid paradigms about how lovers should be enemies when the relationship ended. I want to stop playing the blame game.

But the situation has changed somehow. He stepped back, and he never come back.

The “shoes” has gone. It can’t be seen, nor even used.

NASA’s drawing board. Whoa. 😱 – View on Path.