Hei kamu,
Aku yakin kamu tidak akan membaca apa yang kutulis hari ini. Kamu berada di suatu zona tanpa koneksi internet dan kamu memilih untuk tidak berkutat dengan e-mail dan Twitter.
Tapi hari ini, aku tergerak untuk menuliskan surat untuk kamu.
Surat yang mungkin tidak bisa kulipat jadi perahu kertas untuk dialirkan ke sungai, seperti apa yang Kugy lakukan untuk Keenan dan Neptunus.
Surat yang mungkin hanya bisa kuketikkan dan berharap serta berdoa agar kau tidak pernah menemukannya, jika kau sudah kembali ke kota ini, dimana internet adalah asupan makanan utama untuk manusia.
Aku ingat, kamu menanyakan padaku, “Apa buku Indonesia favoritmu?”
Aku menjawab dengan cepat. “Rectoverso, penulisnya Dee. Dewi ‘Dee’ Lestari.”
Esok harinya, kamu berkata, kamu sudah meminjam buku itu dari tempat penyewaan buku komik dan novel dekat rumahmu. Cerita favoritmu adalah ‘Firasat’ serta ‘Cicak Di Dinding’. Sama denganku. Namun, aku berkata, aku juga suka dengan cerita ‘Hanya Isyarat’.
Mungkin karena cerita itu mengingatkanku kepadamu. Kepada laki-laki yang mencari cahaya. Membuatku tidak bisa memilih peran lain selain wanita yang berharap hanya pernah melihat punggungmu, bukan melihat warna matamu, atau bercakap-cakap denganmu.
Lalu, kamu bertanya lagi padaku, setelah membaca Rectoverso. “Adakah buku lain dari Dee yang kamu suka?”. Aku menjawab, bahwa aku sedang menunggu novel baru Dee untuk terbit. Judulnya: ‘Perahu Kertas’. Kamu berkata bahwa kamu pernah melihat blog tentang buku itu.
Aku membeli buku itu tak lama setelah buku itu terbit untuk pertama kalinya. Aku melahap buku itu kurang dari 24 jam. Aku menceritakan betapa indahnya cerita Kugy dan Keenan kepadamu.
Yang tidak kuceritakan adalah, betapa aku juga bermimpi seperti Kugy. Dan betapa aku tahu, kamu punya mimpi yang besar seperti Keenan. Seperti Kugy yang merasa tidak takut menjadi pemimpi bersama Keenan, begitu juga aku. Denganmu, seperti yang dikutip dalam novel Dee itu, “segala sesuatunya terasa benar”.
Kamu bercerita, bahwa kamu sudah menyelesaikan tugas kuliahmu. Lalu, kau bercerita tentang kamu -yang menyebrang ke mall dekat kampus untuk membeli sebuah buku berjudul “Perahu Kertas”. Lalu, kamu bercerita bahwa kamu membacanya juga kurang dari waktu 24 jam.
Kita seperti berlomba, siapa yang menghabiskan buku itu lebih cepat. Kita berkata, bahwa kita menyukai cerita ini. Menyukai cerita tentang bagaimana dongeng dan lukisan bersatu. Bagaimana hati dipilih.
Sampai hari ini, ketika aku selesai menonton film “Perahu Kertas”, aku semakin yakin. Kamu begitu mirip dengan Keenan. Aku terlalu tinggi menilai kamu, sama seperti Kugy.
Kamu begitu mirip dengan Keenan. Karena pada akhirnya, kamu berhenti kuliah dan mencapai cita-citamu yang sebenarnya.
Kamu begitu mirip dengan Keenan, karena dengan mengenalmu, aku tahu benar apa mimpiku.
Hei kamu, yang pasti belum menonton film “Perahu Kertas” ini, karena tempat tinggalmu yang sekarang begitu jauh di dekat lautan..
Sebentar lagi, aku akan menerbitkan kumpulan cerita pertamaku.
Aku berharap, kamu tidak membacanya sekarang. Mungkin sepuluh tahun lagi, atau dua puluh tahun lagi.
Mungkin sepuluh atau dua puluh tahun lagi, dan kamu bisa tahu, bahwa tahun-tahun itu adalah tahun yang menyenangkan bagiku. Bagimu.
Karena di tahun-tahun itulah kita sadar bahwa “segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar, dan bumi hanyalah sebutir debu di telapak kaki kita.”
PS: Terima kasih untuk Dee atas tulisannya yang cerdas dan memikat. Tulisan yang mempertemukan kesamaan kami, di atas segala perbedaan yang ada.
Bagus, Shevaaaa!
When I was browsing about “Perahu Kertas” at Tumblr Posts I found this letter written by “kepikbadut” to someone. After...