YOUR FAVORITE COLD CEREAL IN THE MORNING

A wench with small nails. A movie buff, which might be your worst nightmare, or your best friend. My life's a maze :)

My first novel-omnibook "Blue Romance" is out now. Published by PlotPoint Publishing (follow them @_PlotPoint) .



Follow me on twitter: @dearsheva
Recent Tweets @
Posts tagged "jakarta"

Berkat kalian, Blue Romance sudah cetakan kedua sejak beberapa waktu yang lalu. Sudah agak terlambat sih untuk memberitahukannya, tapi tidak apa. 

Ucapan terima kasihnya tidak punya kata terlambat, kan? :) 

Untuk yang belum membeli atau membaca Blue Romance, Blue Romance sudah ada di toko-toko buku terdekat di kotamu seperti Gramedia, Gunung Agung, Togamas dll. Untuk pesan online, bisa ke beberapa link website pembelian buku online sebagai berikut: 

http://www.bukabuku.com/browse/bookdetail/2010000056066/blue-romance.html

http://plotpoint.mizan.com/index.php?fuseaction=buku_full&id=6479

http://kutukutubuku.com/2008/search/show?keyword=blue+romance&keytype=

http://www.pengenbuku.net/search?q=blue+romance&email=&uri=pengenbuku%2FsVSC&loc=en_US

Cerita Blue Romance memang sederhana, hanya seputar perasaan manusia dan bagaimana kopi yang dipesan seolah merepresentasikan setiap perasaan dalam ceritanya. 

Mungkin saja, salah satu dari antara cerita dalam Blue Romance adalah ceritamu. 

Aku memutar nomor teleponmu dalam kegelapan. Derik suara angka-angka yang harus diputar menggema dalam ruang tamu.

Ayah sangat menyayangi telepon ini, namun aku sangat membencinya. Aku tidak suka dengan derik dari gerakan memutar yang harus kita lakukan saat menelepon.

Suara itu gaduh. Tapi, meminta ayah membeli telepon wireless sama saja dengan membujuk bumi agar berputar keluar dari porosnya.

Aku berharap ayah dan ibu tidak terbangun.

Suara panggilan yang terhubung ke nomormu sejenak membuatku terperanjat.

“Halo?”

Ada suaramu di seberang sana. Serak dan menyenangkan.

Aku membayangkan dirimu mengucak matamu yang perih karena terbangun tiba-tiba karena suara sembreng dari teleponmu.

Aku membayangkan baju yang kau kenakan. Kaus kumal berwarna putih dengan gambar sepeda ontel dan celana kasual warna hitam yang warnanya sudah memudar.

Aku membayangkan punggungmu dari belakang, yang harus sedikit membungkuk saat meraih gagang telepon dan menjawab panggilan ini. Punggung milik seseorang bertubuh jangkung dan proporsional.

Aku membayangkan sudut-sudut wajahmu saat menjawab telepon ini. Rahang yang tinggi dan ditumbuhi sedikit rambut karena belum bercukur pagi. Jelas saja, ini pukul dua pagi.

“Ini sudah kelimapuluh kalinya kamu menelepon. Siapa kamu?”

Aku terperanjat. Baru kali ini kamu bertanya. Kamu bahkan menghitung jumlah aku menelepon.

Aku menahan napas.

Sudah gilakah aku karena melakukan ini?

Aku selalu meneleponmu hanya untuk merasakan bagaimana rasanya disapa olehmu.

Kamu menyapa semua orang. Aku berharap aku adalah salah satu dari antara orang-orang itu.

Meneleponmu hanyalah satu-satunya pilihan yang ada untuk mendengarkan sepotong “halo” darimu.

Aku tersenyum. Aku menyimpan kata-katamu yang tidak hanya sepotong “halo” itu dalam hatiku.

Jika suatu hari aku lebih berani, aku akan berbicara kepadamu. Percayalah, aku tidak jahat.

Aku hanya ingin disapa olehmu.

Aku menutup teleponku dengan pelan, tersenyum senang dan berjinjit kembali ke kamar.

Aku berharap bisa bertemu kamu lagi dalam mimpi, dan meneleponmu kembali besok untuk bilang bahwa aku memimpikanmu, lewat telepon tanpa suara dariku.

Sampai besok, ya.

Ada sebuah cerita tentang harapan yang tidak sejalan dengan kenyataan.

Bukan. 

Ada banyak cerita tentang harapan yang tidak sejalan dengan kenyataan. Karena itulah, aku mudah untuk menulis tentang kamu. 

Menulis tentang kamu sungguh mudah. Membongkar luka lama, mengingat-ingat pesan singkat yang sudah kamu kirimkan bertahun-tahun lalu, membuat luka baru dengan mengingat-ingat sudut wajahmu. 

Menulis tentang kamu sungguh mudah. Cerita mengenai perbedaan antara harapan dan kenyataan lebih mudah diceritakan. Kamu contohnya.

Menulis tentang kamu sungguh mudah. Karena manusia punya ekspektasi. Ekspektasi yang tidak terealisasi akan menciptakan luka, yang adalah cerita basi. Kamu contohnya. 

Menulis tentang kamu sungguh mudah, karena kamu adalah salah satu dari sekian banyak cerita basi yang anehnya masih renyah untuk dikecap. Ya, tetap kamu contohnya. 

Aku berharap kamu tidak membaca tulisan ini. Karena aku tidak ingin kamu tahu bahwa aku menulis tentang kamu. 

Aneh sekali ya, mengapa sangat mudah untuk menulis tentang kamu, namun sangat sulit untuk bisa bersikap normal di hadapanmu? 

Oh, aku punya alasan.

Aku selalu menulis hal yang aku anggap penting. 

Rupanya, kamu masih penting untuk aku.

Berkali-kali aku menyangkal. Ya, menyangkal bahwa keberadaan kamu dan penjelasan dari kamu itu penting. 

Aku semakin diingatkan dan disadarkan seorang teman bahwa rupanya aku masih menganggap kamu penting. Aku benci mengakuinya. Tapi mungkin memang itu jawabannya. 

Karena aku menganggap kamu penting.

Itulah mengapa aku mudah untuk menulis tentang kamu. 

I was talking with a friend, Sekar Wulandari, (@ndarow), about how saddening it is to see most of people turn to be bitter and full of hatred, have this sudden sickness or disgust when it comes to “he-is-my-ex” kind of game.

It once happened to me. Not with an ex actually. I was in a friendzone, frankly speaking. When I just figured out how things were exactly going, I feel so dumb. I started to questioning things like, “does love fade that easy? That quick?”.

I don’t know who was in love at first. I don’t even care with that. All I know: I was this egoistic wench who love someone and I feel that I deserve that love too. I deserve a certainty: dating or not make-friends at all.

But then, I started to think that I couldn’t do that. I might be the one who think that everything seems right, but maybe he doesn’t think like that.

I feel that those “shoes” were actually made for me because “I love the color, the shape” etc. But I forgot the most important thing: the shoes size.

I forced everything to make my feet suit on that shoes. But it’s not working. Then, I realized that some shoes were meant to be seen, not to be used.

Some men were meant to be friends with us, not to be our boyfriend.

I just hope that if I could turn back time, I want to still be friends with him. I want to erase all that stupid paradigms about how lovers should be enemies when the relationship ended. I want to stop playing the blame game.

But the situation has changed somehow. He stepped back, and he never come back.

The “shoes” has gone. It can’t be seen, nor even used.

Ada sebuah film Swedia yang berjudul “Smultronstället”.  Judul dalam Bahasa Inggrisnya adalah “Wild Strawberries” . Aku memesan film itu, bersama dengan beberapa film lain dan dikirim dalam satu paket besar ke rumahku. Film arahan Ingmar Bergman itu adalah salah satu film non-Hollywood yang sangat membekas untuku. Bukan karena bahasanya yang aneh, tapi dikarenakan adegan pembuka film tersebut.

Dalam film itu, Professor Isak Borg, sang tokoh utama sedang berjalan di suatu kota yang sepi. Sangat sepi, seakan seluruh kota berkonspirasi untuk bersembunyi di dalam rumah mereka, meninggalkan Professor Borg sendirian. Professor Borg melihat banyak keanehan. Jam di sudut jalan tidak memiliki kedua jarum jam. Ia mencoba melihat jam tangannya, dan jam miliknya juga tidak memiliki kedua jarum jam.

Tiba-tiba ada seseorang muncul. Ia mengenakan topi dan coat. Professor Borg mencoba memanggilnya dari belakang dan menepuk pundaknya, tetapi ketika berbalik, Professor Borg terkejut. Orang itu berwajah aneh, sangat aneh, sehingga tampak seperti orang yang tidak punya wajah. Orang tak berwajah itu sempoyongan, dan terjatuh, dengan banyak darah dari tubuhnya.

Dari balik tikungan, sebuah kereta kuda datang. Kereta kuda itu membawa sebuah peti mati besar. Roda kiri belakang kereta kuda itu tiba-tiba melonggar, sehingga kereta itu terjatuh. Peti itu terjatuh.

Bagian yang paling mengagetkan adalah ketika Professor Borg melihat apa yang ada di dalam peti mati itu. Ia melihat tangan seseorang, dibalut dalam jas. Ia menghampiri tangan tersebut, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat bahwa orang tersebut adalah dirinya sendiri. Ia melihat dirinya dalam peti mati itu, mencoba untuk menarik Professor Borg ke arahnya.

Lalu, Professor Borg terbangun. Dalam keadaan kaget, letih, dan kesepian.

Itu adalah mimpi buruk terindah yang pernah seseorang ciptakan menurutku. Mimpi buruk dalam film hitam putih itu tidak pernah bisa kulupakan.

Mungkin sejak itulah aku secara diam-diam mengagumi mimpi buruk.

Mimpi buruk menyadarkan kita bahwa ada hari esok yang harus kita tempuh. Mimpi buruk membuat kita sadar betapa indahnya hidup saat kita terbangun, walau kita harus berhadapan dengan banyak masalah lain setelahnya. Mimpi buruk membuat kita bertanya-tanya, kapan mimpi itu akan berakhir. Karena ketika mimpi itu berakhir, kita merasa beruntung. Damai. Tenang. Bahagia.

Selama ini, aku hanya tidur pulas tanpa mimpi. Tidak ada keseruan sama sekali dalam proses terlelapnya diriku. Istilah yang kubuat adalah , ketika aku tidur, aku hanyalah seonggok daging dengan sedikit tulang yang amat sangat kelelahan. Tidak menarik bagi monster-monster yang sudah menunggu untuk mampir dalam mimpiku.

Sudah lama aku tidak mengalami mimpi buruk. Hingga kemarin.

Aku bermimpi berada di suatu gerbong kereta yang sepi. Hanya ada aku seorang. Kereta itu berlalu dengan sangat cepat. Sungguh cepat hingga aku tidak bisa melihat apa yang ada di luar jendela. Hingga hari ini, aku bisa mendengarkan suara jendela kereta yang bergetar dengan hebat. Aku masih mendengar suara mesin-mesin yang berpacu dan roda-roda kereta yang besar terus bergerak melintasi rel di luar kecepatan normal.

Aku tidak bisa berdiri untuk memarahi si masinis. Aku bahkan tidak kuat untuk berdiri dan pergi. Aku tidak punya keberanian untuk melompat dari jendela. Namun, tiba-tiba Popo muncul. Popo, sebutanku untuk nenek dari pihak ibu, berdiri dengan tangan terbuka dan mencoba menolongku.

Aku terbangun dengan piyama pink yang basah di bagian punggung. Bulir-bulir keringat menetes di pelipisku, membuat anak-anak rambutku basah. AC di kamarku mendadak terlalu dingin untuk tubuhku yang berkeringat. Nafasku menjadi satu-satu, dan tenggorokanku terasa kering.

Mimpi buruk itu sudah selesai. Tetapi, aku tiba-tiba memimpikan seorang figur yang selalu kurindukan selama ini. Figur yang membuat mimpi burukku menjadi mimpi yang indah, namun tiba-tiba membuatku rindu dengan sosoknya.

Ibuku adalah seorang wanita keturunan Tionghoa yang menikah dengan seorang pria Jawa, yang menjadi ayahku. Untuk membedakan kedua nenekku, aku memanggil nenek dari pihak ayah dengan sebutan Nenek, dan memanggil nenek dari pihak dari ibu dengan sebutan Popo.

Popo meninggal 14 tahun yang lalu, saat aku berumur 6 tahun. Sejak aku lahir, Popo sering sekali mampir ke rumah untuk menemani ibu merawatku. Itulah yang kudengar dari ibu. Popo meninggal begitu cepat, bahkan sebelum aku bisa menghapalkan angka-angka dalam bahasa Mandarin.

Aku mencoba untuk memejamkan mata sekali lagi, dan aku akhirnya terbangun keesokan harinya, di hari Sabtu pada pukul delapan pagi. Aku mencoba mencari sarapan di coffeeshop favoritku. Sesampainya di coffeeshop, aku memesan sepotong chocolate fudge cake dan secangkir kopi hitam.

Aku menyeruput kopi pagiku, mengulumnya dengan lidah, membiarkan rasa pahit-manis dari kopi itu menyerbu indera perasaku. Kue yang kupesan sebagai sarapan pagi itu sangat nikmat, dan aku memakannya perlahan bersama dengan kopiku, menikmati tiap gigitannya, sambil melihat pantulan cahaya yang masuk dari ventilasi jendela coffeeshop ini.

Aku mengalihkan pandanganku ke permukaan kopi hitamku. Perlahan, aku melihat pantulan wajahku disana. Aku melihat diriku empat belas tahun yang lalu, dengan kaus biru gelap, rok berwarna beige dan rambut dikuncir kuda. Aku melihat diriku, sedang duduk dan bersusah payah mengikatkan tali sepatu putihku, bersiap untuk pergi ke pemakaman Popo. Aku kembali mengingat, ketika akhirnya ayahku menghampiriku untuk membantuku mengikat tali sepatu, aku akhirnya bertanya.

            “Pi, aku nggak apa-apa kan ya pake sepatu putih? Papi-mami pake bajunya hitam semua.. Aku ngga ada sepatu hitam lho..”

            Ayahku, dengan wajah yang ditumbuhi janggut halus yang selalu kuamati hingga sekarang, tersenyum lembut padaku. Ia berlutut di hadapanku, dan mencoba membuat simpul pada tali sepatuku. “Nggak apa-apa sayang.. Kalau ke pemakaman, ngga selalu harus pakai baju hitam. Asal bajunya sopan dan warnanya ngga terang. Bisa pakai baju putih, atau warna-warna yang gelap kayak coklat atau biru kayak yang kamu pakai..”

            “Aku boleh pakai sandal Tweety ngga? Gambar Tweety-nya udah copot, Pi.. Jadi cuma tinggal warna hitam..” aku bertanya sambil melihat sepasang sandal Tweety milikku dari balik bahu ayah yang menunduk. Aku melihat ada warna merah di sandal itu. “Eh, ada warna merahnya Pi.. Gimana dong?”

Ayah tersenyum sambil menepuk kedua lututnya dan berdiri. Ia baru saja selesai mengikat tali sepatuku. “Udah sayang, pakai sepatu ini aja. Sepatunya bagus kok..”

“Tapi Pi, sepatu ini ada gambar roket. Roketnya ada warna pink. Liat nih..” aku menunjuk pada strip kecil berwarna pink yang menghiasi gambar roket kecil dari sepatu Bubblegummers milikku.

“Gambarnya kecil kok sayang.. Gak apa-apa.. Kita pergi sekarang, ya?” aku mengangguk seraya ayah menepuk kedua bahuku dari belakang.

Kami sekeluarga, termasuk adikku yang masih berumur satu tahun juga ikut ke pemakaman. Popo memiliki banyak anak-anak. Aku punya tujuh om dan tante dari pihak ibu, sehingga upacara pemakaman itu sangat ramai dengan keluarga dan teman-teman mereka.

Aku melihat peti mati itu masuk ke dalam lubang dari tanah berwarna merah itu. Tanah yang basah dan memiliki warna yang berbeda dengan tanah di halaman rumah. Aku melihat tante-tanteku menangis dengan suara yang keras, meraung dengan mata berlinang air mata. Suara mereka bagaikan serigala di tengah malam yang hendak mencari mangsa, dan suara mereka membuat jantungku berdegup kencang. Aku takut mendengar suara mereka.

Ibuku berdiri di pinggir lubang kubur, melihat ke dalam dengan mata terbingkai kacamata hitam. Ia memperhatikan dengan saksama apakah peti mati itu sudah turun dengan posisi yang tepat, apakah lubangnya sudah cukup dalam, sambil sesekali memberi arahan pada pekerja yang menggali lubang. Ia tidak menangis. Tetapi aku bisa merasakan kesedihan dan kerinduan yang sangat di balik matanya, walau tak terlihat. Aku bisa merasakan keinginannya untuk menjadi yang paling tenang di saat tante-tanteku sedang menangis.

            Aku mengingat dengan jelas, pikiranku saat itu bukan kepada tangisan tante-tanteku atau wajah-wajah yang kukenali, yang ikut menyalami ibuku dan seluruh keluargaku untuk menyampaikan ucapan turut berduka cita. Pikiranku malah berada di ruang tamu di rumahku. Suatu malam di ruang tamu, beberapa bulan sebelum pemakaman Popo, aku duduk bersamanya disana. Ia mengenakan kemeja bermotif bunga besar dengan kancing-kancing putih, sepasang anting mutiara dan potongan rambut terbaik miliknya –dengan sebuah bando sederhana tersemat di rambutnya.

            Ia mengajarkanku untuk bisa menghapalkan angka-angka dalam bahasa Mandarin, dari angka satu sampai dua puluh. Ia tidak bisa mengajarkan lebih banyak angka karena hari sudah malam, dan ibuku hendak mengantarkan Popo ke dokter. Aku berharap Popo datang di hari-hari berikutnya, tapi ibu berkata bahwa Popo sakit.

            “Kenapa? Popo sakit apa?”

            “Popo sakit jantung..”

            Lalu, semua terasa masuk akal. Aku ingat pada suatu hari, aku dan kakakku ikut ibu mengantarkan Popo ke dokter. Setelah itu, kami makan siang di McDonald’s. Aku selalu suka fried chicken, dan aku menyantapnya dengan nikmat. Namun, aku melihat Popo tidak menyantap fried chicken dengan utuh. Ia hanya menyantap bagian daging putih, yang sudah ibu suwir-suwirkan untuk memudahkan Popo makan. “Ingat ya, Ma. Kata dokter, kalau makan ayam, hanya boleh daging putihnya aja, jangan makan kulitnya..”. Ibuku mengingatkan Popo sambil terus menyisihkan suwiran daging ayam bagian putihnya dengan kulit ayam yang merupakan bagian favoritku. Popo terlihat baik-baik saja walau tidak makan bagian kulitnya. Jika aku dilarang makan kulit ayam, aku pasti kesal sekali.

Aku kembali mengingat pada suatu malam, aku sungguh mengantuk. Ayah, ibu dan Popo baru saja pulang dari sebuah pusat perbelanjaan. Tanpa menyapa Popo, aku langsung tertidur. Malam harinya, aku terbangun dan mendapatinya tidur di sampingku. Ia tampaknya tidur dengan nyenyak, dan aku malah mencoba untuk membangunkannya.

“Popo?” aku mengguncangkan tangannya yang berada di atas bantal. Namun ia tidak bisa dibangunkan. Ia sudah terlelap. Aku membayangkan, apa yang ada di dalam kepalanya. Apakah ia bermimpi? Atau ia tertidur tanpa mimpi sama sekali?

Di bawah lantai, aku melihat sekotak hadiah yang dilapisi kertas kado emas. Aku ingin sekali membukanya, namun aku selalu ingat kata Popo, bahwa hadiah tidak boleh dibuka jika belum disuruh membuka. Maka aku mengunggu hingga hari esok, hari dimana kami akan pergi bersama-sama ke Puncak.

Kami pergi ke Puncak esok harinya. Aku melihat pemandangan yang berkabut namun cantik, penuh pohon dan bukit-bukit yang tampaknya selalu bermunculan. Kami menyantap nasi goring di sebuah restoran di Puncak Pass, dan ibuku mengeluarkan sebuah kotak hadiah. Kotak berlapis kertas kado emas yang kemarin ada di kamarku. Ia menyuruhku membukanya, dan aku membukanya dengan perlahan.

Aku mendapat tiga boneka cantik berbaju lucu yang terbuat dari plastik. Rambut ketiga boneka itu berwarna pirang, dan mata mereka berwarna biru. Aku mengucapkan terima kasih kepada ayah, ibu dan juga Popo. Ibu mengatakan bahwa aku harus berterima kasih pada Popo, karena Popo yang membelikan ketiga boneka itu untukku.

Aku mengingat ketiga boneka cantik itu ketika pemakaman sudah hampir usai. Aku dan keluargaku kembali ke rumah. Malam menjelang, dan aku sulit sekali memejamkan mata.

Berbagai kepingan kenangan mengenai Popo menyerbuku malam itu. Aku melihat tubuhnya terbujur kaku, terlihat cantik dalam peti mati. Aku mengingat beberapa orang yang tidak kukenali wajahnya datang menghampiri ibuku, dan mengatakan sifat-sifat dan hal-hal baik mengenai Popo yang membekas di hati mereka.

Ada banyak hal dari Popo yang membekas dalam diriku. Aku mengingat bagaimana ia juga ikut menemaniku menonton tayangan kartun di sore hari.  Aku mengingat bagaimana cara ia tersenyum. Senyum yang lembut, yang selalu kutunggu setiap sore di ruang tengah rumahku.

Aku mengingat cara jalannya yang melambat. Aku ingat bagaimana dulu aku selalu menganggap Popo hanya memperlambat gerak-gerikku yang lincah, maka aku sering sekali meninggalkannya di belakang untuk hanya berjalan bersama ibuku. Aku sungguh menyesalinya sekarang, karena aku tahu Popo pasti ingin juga berjalan cepat seperti orang lain.

Aku kembali membayangkan wajah Popo dalam cangkir kopi hitamku. Wajah Popo dalam cangkir kopi hitam itu tidak bergerak seperti sebuah film. Wajahnya hanya diam dan tersenyum. Popo sangat cantik saat tersenyum.

Senyum yang kubayangkan adalah senyum yang sama dalam mimpi burukku semalam. Senyum yang selalu bisa menenangkan hatiku saat aku tidak bisa membuat pesawat dari kertas dengan bagus. Senyum yang selalu membuat aku ingin menyandarkan kepala di lengannya saat aku masih kecil. Senyum yang selalu membuat aku tersenyum kembali.

Aku kembali mencatat dalam catatan mental di pikiranku, bahwa mimpi buruk mengajarkan satu hal lain. Mimpi buruk mengajarkan kita bahwa ketika hal-hal buruk terjadi, orang-orang yang kita sayangi adalah orang yang kita ingat pertama kali. Mereka adalah orang yang ingin kau mintai tolong. Mereka adalah orang-orang yang juga ingin kau tolong saat hal buruk terjadi pada mereka. Mereka bisa membuat mimpi buruk kita menjadi mimpi yang indah.

Satu hal penting yang kupelajari. Mimpi buruk dengan satu dan lain cara bisa membuat kita mengingat kembali hal-hal baik dari diri orang di sekeliling kita. Hal-hal baik dari orang yang kita sayangki.  Saat Popo datang menyelamatkanku dari kereta berkecepatan maut itu, aku tahu, bahwa dalam dunia nyata, jika aku berada dalam situasi yang sama, bukan hal yang mustahil bahwa Popo akan muncul dan menyelamatkanku. Aku selalu percaya pada Popo, dan aku selalu tahu bahwa ia menyayangiku.

Aku berterima kasih, secara tidak langsung, kepada mimpi buruk itu. Mimpi buruk itu mengingatkanku kembali kepada Popo. Ke daerah Puncak yang biasa kami sekeluarga kunjungi bersama dengannya. Aku mengingat kartun-kartun bagus yang selalu kutonton setiap sore bersamanya. Pelajaran Mandarin singkatnya. Sepasang anting mutiara miliknya. Kemeja motif bunga-bunga yang ia gemari. Tumpukan komik Jepang milikku yang membuat kakakku selalu diomeli olehnya jika terlalu banyak membaca komik.

Aku merasa bahagia, karena mimpi buruk itu mengingatkanku pada hal-hal baik mengenai Popo.

Aku kembali menyeruput kopiku, dan mengigit kueku perlahan. Tiba-tiba, suasana di coffeeshop ini berubah menjadi hangat. Seakan aku sedang berada dalam perjalanan ke Puncak, melihat pepohonan dari balik jendela mobil, dengan Popo di sampingku.

 

Kedewasaan membuat kita lupa untuk waktu yang lama.

Kedewasaan membuat kita lupa bagaimana caranya untuk jujur dalam mengungkap emosi.

Kedewasaan membuat kita lupa pentingnya untuk berkata tidak suka saat memang tidak suka.

Kedewasaan membuat kita lupa pentingnya untuk berkata suka saat memang suka.

Entah itukah yang namanya kedewasaan, atau sekadar menempatkan diri dengan keinginan semua orang.

Kedewasaan membuat kita menapaki tanah kiasan bernama realita.

Kedewasaan membuat kita hidup dengan berlari mengikuti tempo waktu, bukan keinginan diri.

Kedewasaan membuat kita membuka mata.

Kedewasaan membuat kita merasakan cinta itu konsisten, bahwa cinta akan selalu bercampur dengan luka.

Kedewasaan membuat hidup kita tampak sibuk dan lupa pada hal-hal kecil yang sebenarnya prinsipil.

Kedewasaan membuat kebijaksanaan. Itu benar adanya. Kebijaksanaan yang didasari pada keraguan. Pada minimnya kepercayaan.

Kedewasaan membuat kita meragukan berbagai macam cerita cinta.

Kedewasaan membuat kita merasa sebelas duabelas dengan elegi patah hati yang tokoh utamanya mati percuma.

Kedewasaan membuat kita meragukan adanya akhir yang bahagia.

Kedewasaan membuat kita melabeli bahwa akhir yang bahagia adalah akhir yang sesuai dengan harapan kita.

Kedewasaan membuat kita lupa bahwa akhir yang tidak sesuai dengan harapan kita bisa saja adalah akhir bahagia yang sebenarnya dari perspektif lain dan tidak terlihat mata.

Kedewasaan membuat kita merasa terlalu tua untuk cerita berakhir bahagia.

Namun, hal itu bukan berarti kita berhenti percaya pada akhir yang bahagia, bukan?

Saya selalu percaya, proses pendewasaan adalah proses mendapatkan kebahagiaan. Menjadi dewasa bukan berarti menjadi lebih pahit.

Saya tidak banyak tahu mengenai kedewasaan. Tulisan ini dibuat oleh orang yang masih meraba arti kedewasaan, dan baru mendapatkan sebagian kecil jawabannya dari menuliskannya.

We may be too old for happy endings. But it doesn’t mean we should stop believe in that.
@dearsheva

I saw your name on my Yahoo Messenger’s contact list.

You again.

You’re on the line.

With a new avatar. A picture of a big rock or cliff or whatever it is, firmly standing in the sea. I’m pretty sure that the picture is taken by you with your pocket camera.

I was waiting for you to say hello first. I looked at the clock. 9.45 at night. I’m pretty sure you’re still an owl. You’re awake now. In fact, you’re on the line.

Tick-tock. Tick-tock. Time’s ticking, flying.

Now, it’s 10.00.

Should I say hello first? Nothing’s wrong with a simple hello. But, I’m pretty sure, a single hello will get me swallowed in the sea of expectations.

I tell myself that I can’t say hello. I’ve been here before, and I’m pretty sure that I’m not as stupid as I was back then.

So, I typed this letter to you. I wish I could write it with pen and paper, but you can’t read it, because if I send this to you, you will say hello as a reply, and I will be flattered and think that we could make it again and an old story of how a woman onced loved a man and this man got her heart broken multiple times will happened again to me.

Hello. How are you?

Nice avatar.

It reminded me of an illustration of a book written by me.

Yes, I wrote a book. Thank you.

Now, let me tell you about the illustration, the metaphor.

This girl, she fell in love with her friend. She assumed this guy has a deep insight, as deep as the very blue sea. And she assumed herself as a big cliff, a huge rock, firmly standing in the middle of this sea. She got his back. He got her back. Best friend forever. True blue friends.

“Friends who turn to be too attached”. That’s what I wrote in the book.

I just want to tell you, when I wrote those words, half of my heart wrote it for the sake of us. For us to remember, that you have been a sea to me.

The worst thing about this girl and I is, they thought they are the cliff.

I’m not a cliff to you. I know. I don’t even know why I assumed myself like that. I’m just a small cliff and the salted water from the sea will creeping up on me, eat me up slowly and I will sink slowly into the water.

What a rock could do when it sinks into the water? It isn’t able to move.

Saya teringat suatu kejadian malam ini. Kejadian yang tampak kecil, namun membuat saya merasa bisa menghadapi masalah dengan dewasa.

Saya belum pernah dituduh-tuduh tanpa sebab oleh orang-orang yang tidak saya kenal sama sekali.

Hebatnya, mereka menuduh saya seakan mereka punya seribu mata hingga bisa melihat niat saya, yang katanya buruk.

Dangkal. Tidak punya otak. Penipu. Beberapa kata hinaan yang akurasinya dipertanyakan.

Saya marah. Saya ingin berontak. Saya bukan orang yang suka cari masalah. Mungkin karena itulah saya tidak suka terlibat dalam perdebatan tidak perlu yang hanya menebalkan telinga dan menipiskan mental.

Saya mendengar, saya melihat bagaimana tuduhan demi tuduhan terlontar. Saya tahu saya tidak salah. Saya ingin tidak peduli, tapi saya terlanjur mendengar dan melihat.

Indera kita adalah perekam paling hebat. Saya tidak menyangkal hal ini. Karena itulah, rasa sakit yang ditimbulkan karena melihat dan mendengar hal-hal ini terasa dua kali lipat kerasnya.

Saya diingatkan seseorang, bahwa integritaslah yang akhirnya menjaga kita. Integritas ini akan menjaga saya, sebrutal apapun tuduhan yang saya terima.

Saya menangis saat itu karena dua hal: mengapa saya bisa-bisanya terpuruk hanya karena tuduhan tanpa dasar, dan terenyuh karena banyak orang yang percaya pada saya.

Malam ini, saya meyakini satu hal: saya tidak bisa menjawab semua tuduhan ini dengan perang mulut. Itu bukan cara yang baik. Menjawab semua tuduhan itu hanya membuat saya letih. Membuat saya kekanakan. Membuat saya tidak mengerti esensi dari integritas, seperti yang teman saya katakan.

Tuduhan tidak harus ditanggapi, selama kita yakin bahwa kita benar.

Saya bisa menjawabnya dengan melakukan hal-hal yang saya bisa, sebaik mungkin. Klise, tapi itulah adanya.

Untuk orang-orang yang mendukung saya selama ini, terima kasih banyak. Saya belajar banyak hal, dan tulisan ini saya berikan untuk kalian.

the wind sings through the door of this breakfast house.

it’s early in the morning and no one is here except us.

maybe, the concept of a breakfast house is no longer assumed as a unique place. 

but, we like this place after all. this is the place where we could show the truest sides of ourselves. 

you like this place because you always like the idea of being alienated.

you always like the idea of eating breakfast all alone, enjoying bit by bit of the scrambled eggs that you always order.

you always like to sip your coffee with the most ridiculous sound, that will make every single person in this breakfast house leave as soon as possible. 

you don’t like being in the middle of the crowd of people. 

you don’t like to be a part of this funny town’s hustle and bustle. 

you always wanted to be the black background of a silly quote made of white-colored font. the white shirt of a man’s favorite suit. the milk of your favorite scrambled eggs.

you always wanted to be the despised particle. the neglected cameo in a movie. the terrestrial part of an extra-terrestrial world. the forgettable gesture of an underrated actor. the fading era of a has-been celebrity. 

same like this breakfast house. forgotten, abandoned, underrated. neglected, despised, underestimated. 

but you always believe in the most ridiculous concept in this world: a happy end. 

you believe that you will be the town itself, al pacino on his glory days of ‘the godfather’ trilogy, the serendipitious bump of the lovebirds that have been separated between new york and new jersey, the hero in your favorite dish at this breakfast house. 

now, you’re saying thank you to me, and goodbye. 

you left me here behind the bar, with your empty plate and coffee cup, forgot to ask me about a happy end that i expected for a long time.

one day, if you ask me that question, i will say this: 

“i expected that you will be the town itself, al pacino on his glory days of ‘the godfather’ trilogy, the serendipitous bump of the lovebirds that have been separated between new york and new jersey, the hero in your favorite scrambled eggs -your favorite dish at this breakfast house.. that’s a happy end for me.” 

then, i will pour you a coffee as a complimentary, and we will have an endless chat about the future, the glory days of us. 

the days where we will have our happy end together.